Asosiasi Migas Indonesia
(Indonesian Petroleum Association/IPA) mengimbau pemerintahan Joko
Widodo (Jokowi) untuk menerapkan terobosan kebijakan yang akan
meningkatkan investasi hulu minyak dan gas di Indonesia.
Dalam situasi di mana cadangan terbukti dan produksi minyak semakin
menurun, ditambah dengan fakta tingkat penemuan cadangan minyak baru
yang lebih rendah dari jumlah produksi, Indonesia diprediksi menjadi
importir minyak terbesar dunia di 2019.
"IPA akan mendorong anggotanya untuk meningkatkan partisipasinya
dalam kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan," kata Presiden IPA
yang baru Craig Stewart dalam Rapat Umum Tahunan (Annual General
Meeting) IPA, di Jakarta, Selasa (9/12/2014).
Untuk itu, lanjut Stewart, IPA menyarankan agar pemerintah memberikan
insentif baru untuk memantapkan dan mempercepat kegiatan eksplorasi di
Indonesia.
Pasalnya, menyediakan investasi maha besar di sektor hulu migas untuk
jangka lima tahun ke depan bukanlah tugas yang mudah, jadi pemerintah
wajib menarik investor yang baik dan kompeten di bidangnya dengan
menciptakan iklim investasi yang baik, dan proses persetujuan proyek
yang efisien.
“Meningkatkan pasokan energi migas, melalui
eksplorasi dan optimisasi produksi, juga emerlukan kejelasan, kepastian,
dan konsistensi peraturan, serta skema fiskal yang menarik,” imbuhnya.
Craig Stewart, Presiden Baru IPA
Pada kesempatan tersebut juga diumumkan Presiden dan Dewan Direktur
terbarunya untuk 2015, di mana Craig Stewart dari Salamander Energy
menggantikan Lukman Mahfoedz dari Medco Energi Internasional sebagai
Presiden asosiasi migas Indonesia ini.
Direktur Eksekutif IPA Dipnala Tanzil menuturkan, Dewan Direksi IPA
untuk 2015 akan mulai bertugas per 10 Desember 2014 "Tugas mereka adalah
mendorong kemajuan pengembangan industri hulu migas Indonesia bersama
para pemangku kepentingan utama lainnya," kata dia.